[Mengulas Buku] Ulasan Serial Bumi: Novel Keenam, Komet

 



Judul : Komet

Penulis      : Tere Liye

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Halaman :384 halaman 

Halo kembali di blogitawelasti, kali ini aku akan mengulas lanjutan dari serial Bumi yang berjudul Komet. Novel dengan sampul berwarna orange ini merupakan kelanjutan dari petualangan Raib, Seli dan Ali setelah berhasil menghalangi Dewan Kota Zaramaraz di Klan Bintang yang ingin meruntuhkan pasak bumi untuk menghancurkan dunia paralel. Pada novel dengan jumlah halaman 384 halaman ini menceritakan tentang perjalanan ketiga sahabat ke Klan Komet, klan yang berbeda dari klan-klan lainnya dan tentunya lebih hebat. Sebelumnya pada novel kelima, Ceros dan Batozar diceritakan bahwa Tanpa Mahkota yang merupakan musuh besar dunia paralel hendak mencari komet. 

Cerita dimulai dengan percakapan Papa Raib dan Raib di perjalanan menuju sekolah, mereka berbincang tentang kuliah. Kemudian dilanjut dengan Raib dan Seli yang mencari-cari Ali di sekolah, saat itu Raib yang tengah kesal karena Ali dan Seli membawa barang dari dunia paralel ke sekolah. Raib tentu saja tahu itu adalah ulah Ali dan ketika tidak menemukan Ali di sekolah mereka memutuskan untuk pergi ke rumah Ali. Ali yang genius memang sedang melakukan pencarian, di rumahnya terdapat peta digital Klan Matahari dan ternyata Ali sedang mencari sebuah pulau dengan tumbuhan aneh yang diduga ada di Klan Matahari. 

Kemudian berlanjut dengan pesan yang dikirimkan Av kepada Ali dan memintanya untuk berkumpul di rumah Seli untuk membahas lebih lanjut mengenai Tanpa Mahkota di Klan Matahari. Tanpa Mahkota adalah orang yang sudah hidup ribuan tahun di dalam Penjara Bayangan di Bawah Bayangan, dia adalah musuh besar sekaligus orang terkuat di dunia paralel yang berhasil lolos dari penjara. Batozar berkata bahwa Tanpa Mahkota sedang mencari komet untuk menggenapkan kekuatannya, itulah yang akan dibahas pada pertemuan di Klan Matahari. 

Penulis menggambarkan Tanpa Mahkota dengan sosok gagah yang sulit dikalahkan, pemilik semua kekuatan di dunia paralel yang sangat hebat. Dirinya sudah berkelana ke banyak tempat untuk mendapatkan kekuatan dan komet adalah salah satu yang dia cari. Sebenarnya dari awal aku sudah terbawa suasana dengan cerita di dalam novel dan aku juga sudah mendapatkan feel dari awal membaca novel ini, mungkin karena aku alurnya menarik dan aku penasaran dengan kelanjutan petualangan ini. 

Petualangan ketiga sahabat yang akhirnya berhasil mengikuti si Tanpa Mahkota masuk ke Klan Komet, klan unik dengan tujuh pulau, Pulau Hari Senin sampai Pulau Hari Minggu. Penulis menggambarkan bahwa Kepulauan Komet adalah pulau yang unik dan teknologi tidak bisa digunakan di klan tersebut yang artinya petualangan mereka kali ini juga akan semakin berat. Mereka bertemu dengan Paman Kay dan Bibi Nay, yang ternyata pemegang kunci dari petualangan ini. Inilah dua orang unik dalam novel Komet, mereka bertiga nantinya akan bertemu dengan orang yang mirip dengan Paman Kay di setiap pulau sampai perjalanan mereka di Pulau Hari Sabtu. 

Perjalanan melintasi lautan luas tentu tidak mudah tetapi karena persahabatan sejati ketiganya, perjalanan ini tentu saja terasa menyenangkan. Walaupun mereka bertiga banyak bertengkar tetapi tetap solid dan selalu bekerja sama, belum lagi karena mereka adalah orang-orang yang peduli dan suka menolong. Aku suka sekali ketika Raib memaksakan untuk mencari boneka singa laut milik salah seorang anak di Pulau Hari Rabu walaupun Seli dan Ali enggan untuk menolong tetapi akhirnya mereka mau menolongnya. 

Dalam novel ini juga nantinya penulis menghadirkan banyak rintangan seperti bertemu dengan hewan-hewan laut bentuk raksasa seperti bintang laut raksasa yang ternyata suka mencuri barang-barang warga Pulau Hari Selasa, berhadapan dengan kawanan burung hitam yang merusak panen di Pulau Hari Rabu. Selain itu tokoh Raib juga menolong Dorokdok-dok, ketua perompak yang sedang kesakitan di Pulau Hari Kamis. 

Aku juga suka dengan tokoh Seli yang rela berkorban demi kedua sahabatnya. Seli rela tidak tidur semalaman untuk berjaga dan membiarkan kedua sahabatnya yang sedang kelelahan usai mengeluarkan pukulan berdentum demi membuat perahu mereka tetap berlayar. Hanya ada bagian yang membuatku bingung, ketika mereka bertemu dengan gurita raksasa di mana mereka sangat cepat lolos dari gurita tersebut yaitu hanya dengan menyerap cahaya. Padahal biasanya, di buku-buku sebelumnya, Tere Liye akan membuat alur yang panjang ketika ketiga sahabat sedang menghadapi rintangan, mereka akan bertarung seperti tidak akan menang dan pada akhirnya keajaiban datang, tetapi tidak untuk bagian gurita raksasa ini. 

Ada juga hal lain yang membuatku bingung mengenai Paman Kay, Kakek Kay, Petani Kay, Dorokdok-dok, Ketua Pulau Hari Jumat dan Pelaut Kay yang ditemuinya adalah tokoh yang sama, akan tetapi entah bagaimana satu orang bisa pergi ke setiap pulau, penulis tidak menjelaskan terkait hal ini. Tetapi yang membuatku bingung adalah bagian terakhirnya tetapi aku tidak akan membahasnya di sini, kalau penasaran kamu bisa membaca bukunya langsung ya! Selain itu di Kepulauan Komet ini juga banyak ditemukan hewan-hewan unik lho! Contohnya adalah udang di balik batu, kuda nil terbang, ikan kepala dua dan hewan-hewan lainnya, novel yang sangat direkomendasikan untuk dibaca. Tetapi sebelum membaca Komet, sebaiknya membaca serial sebelumnya ya dan urut mulai dari Bumi. Oke segitu saja review aku kali ini, terimakasih dan selamat membaca!


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url