[Mengulas Buku] Ulasan Novel Sepotong Hati yang Baru

 


Judul : Sepotong Hati yang Baru 

Penulis : Tere Liye 

Halaman : 214 halaman

Penerbit :PT Sabak Grip Nusantara 

Halo kembali lagi di blogku, blogitawelasti dan kali ini aku mau mengulas novel karya Tere Liye yang judulnya Sepotong Hati yang Baru. Novel dengan jumlah halaman 214 halaman ini berisi kumpulan cerita pendek tentang kisah romansa. Dalam novel ini ada 8 cerita pendek yang kisahnya diambil dari kisah romansa anak remaja zaman sekarang sampai kisah-kisah terdahulu. Salah satu kisah terdahulu yang diceritakan dalam novel ini adalah kisah Rama dan Shinta. 

Jujur aku adalah orang yang jarang membaca kisah-kisah terdahulu seperti ini, tetapi setelah aku membaca kisah Rama Shinta di novel Tere Liye aku jadi suka sekali kisahnya. Menurutku cerita yang paling aku suka ini ya kisah cinta Rama dan Shinta ini. Tetapi dalam cerita ini, penulis mengaitkannya dengan kisah di zaman sekarang yang tentunya ada banyak pelajarannya. Menurut Tere Liye kepercayaan adalah fondasi cinta itu sendiri, tanpa adanya kepercayaan maka itu akan menelan diri sendiri. 

Tere Liye menceritakan kisah seorang Ayah yang kehilangan anak perempuan bernama Cindanita karena tidak ada kepercayaan dalam cinta. Cerita dimulai ketika Ayah Cindanita yang seorang pelaut sedang berlabuh di sebuah daerah. Kebetulan di daerah tersebut sedang diadakan pernikahan paksa, seorang perempuan yang akan menikah dengan kakek-kakek tua. Perempuan tersebut kemudian memiliki rencana untuk kabur dan meminta bantuan kepada si pelaut tersebut dan kemudian mereka menjadi dekat. Lambat laun timbulah perasaan itu lalu akhirnya mereka menikah. 

Ketika si perempuan sedang mengandung, suaminya pergi melaut lalu mulailah timbul kecurigaan. Bermula ketika tetangga-tetangganya datang ke rumah, mengajak ngobrol si perempuan tersebut hingga curiga suaminya pergi melaut dan mencari perempuan lain. Sama seperti kisah Rama dan Shinta di mana Rama tidak menaruh kepercayaan terhadap Shinta, Rama kehilangan Shinta. Begitu pula dengan si perempuan tadi yang akhirnya memutuskan untuk berpisah, meninggalkan anak dan suaminya, si anak yang bernama Cindanita sakit-sakitan lalu meninggal. 

Buku ini bukan sekedar buku romansa biasa, tetapi menyimpan banyak pelajaran penting di setiap ceritanya. Contoh lainnya adalah di cerita “Bila Semua Wanita Jelek”, ada dua perempuan bernama Vin dan Jo. Jo adalah perempuan yang jauh dari standar kecantikan dan itu membuatnya minder, berbeda dengan Vin yang walaupun juga jauh dari standar kecantikan yang dibuat masyarakat tetapi Vin tetap santai dan nyaman dengan dirinya sendiri. 

Lewat cerita ini penulis mengajak pembaca khususnya perempuan untuk tidak terkukung dalam standar kecantikan yang dibuat oleh manusia zaman sekarang. Tuhan saja tidak menerapkan standar kecantikan apapun mengapa kita menerapkan standar tersebut yang hanya membuat kita merasa minder dan rendah diri. Aku juga setuju dengan penulis yang mengatakan bahwa kecantikan dan kebahagiaan itu datangnya dari hati. Tidak apalah jika memang kita tidak sesuai dengan standar kecantikan yang ada, kita tetap bisa santai menjalani hari dengan menjadi diri sendiri. 

Cerita lain yang juga memberikanku pelajaran berharga adalah “Kisah Sie Sie”, aku menangis membaca cerita ini karena membuatku tersadar kalau selama ini aku masih kurang bersyukur dibanding Sie Sie. Aku juga tidak tahu apakah masih ada perempuan yang bernasib sama dengan Sie Sie di zaman sekarang atau tidak, Sie Sie digambarkan sebagai tokoh perempuan tangguh dan kuat, beban yang menimpa dirinya itu terlalu berat untuk anak seumurannya, tetapi dia bisa ikhlas menjalaninya. Lewat Sie Sie aku banyak belajar mengenai keikhlasan dan kesabaran serta tekad untuk mencapai sesuatu. Jangan pernah setengah-setengah, jangan pernah berputus harapan jika menginginkan sesuatu. 

8 cerita pendek ini panjangnya berbeda-beda, ada yang pendek hanya 9 halaman ada juga yang berlembar-lembar. Tetapi ada juga bagian yang unik, karena novel ini mengangkat kisah romansa di zaman dulu, ada satu cerita yang menggunakan gaya tulisan jaman dulu judulnya “Itje Norbaja dan Kang Djalil”, cerita ini menggunakan ejaan di zaman dulu yang sejujurnya membuatku kesulitan untuk membacanya, tetapi bisa jadi ini bagian yang unik. Oke segitu dulu ulasanku kali ini, terimakasih banyak sudah membaca ulasan singkat ini, aku akan tulis penutup berisi kutipan yang aku suka dari buku, 

“Cinta yang besar tanpa disertai komitmen dan kepercayaan maka dia hanya akan menelan diri sendiri.”


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url