[Mengulas Buku] Ulasan Buku Sesekali Kita Butuh Sepi



 Judul : Sesekali Kita Butuh Sepi 

Penulis : Ikhsanudin 

Penerbit : Trans Media Pustaka

Halaman : 188 halaman 

Ekspektasi waktu pertama kali lihat buku ini di Gramedia itu dari judulnya aku nebak kalau isinya ini tentang perenungan. Jadi yang aku artikan dari judulnya ini memang sesekali kita butuh sepi, butuh waktu untuk merenungkan semua yang terjadi dengan kita. Dan ya tepat banget ekspektasiku sama buku ini, ya kurang lebih tentang manusia dan keresahannya. 

Buku dengan sampul yang sederhana (menurut aku) ini cocok banget dibaca oleh kamu yang lagi ngerasa down, pesimis, galau, sedih dan perasaan negatif lainnya. Aku lupa kapan aku beli buku ini, kayaknya November 2021 dan harganya (kalau nggak salah ingat ya) Rp 65.000 di Gramedia. Covernya simpel banget, hitam putih gitu terus ada nama penulisnya di bawah “Ikhsanudin”. Buku ini nggak terlalu tebel, cuma ada 188 halaman, ya walaupun nggak tebel aku selesai bacanya lama banget hehe. 

Sesekali Kita Butuh Sepi, udah kelihatan dari judulnya kalau kita juga butuh sepi untuk merenungkan sesuatu. Di dalam buku ini kita diajak untuk selalu berprasangka baik terhadap apa yang telah terjadi dalam hidup ini. Dibagi menjadi 2 bab, bab pertama judulnya “Kita Ini Ibarat Langit” dan bab kedua judulnya “Kisah Ini Tentang Kita”. Untuk bab pertama ada 3 subbab yang menjelaskan tentang bagaimana sikap yang harus kita ambil saat mendung datang ke hidup kita. Sub bab kedua menjelaskan tentang belajar untuk berlapang dada dengan apa yang terjadi. 

Salah satu bagian yang aku suka adalah “Untukmu yang Tak Pernah Menyerah” di sini banyak banget quotes menarik yang sangat menamparku contohnya “Untukmu yang tak pernah menyerah, jangan sampai jalan ini kamu sudahi dengan putus asa akibat rintangan yang seolah tak ada habisnya,” ngena banget kan? Terus sub bab terakhir tentang “meneruskan langkah.” Jadi pembaca diajak untuk terus berjalan ke depan walaupun saat itu kondisi sedang tidak baik-baik saja, tidak apa untuk terus berusaha bangkit daripada terpuruk dalam kesedihan. 

Masuk ke bab 2 tentang menghargai diri sendiri, menerima dan memaafkan kesalahan yang pernah dilakukan dan bersyukur atas apa yang telah kita dapatkan selama ini. Banyak banget pelajaran penting yang aku dapat dari buku ini, bagian yang paling aku ingat (aku lupa halaman berapa sih hehe) itu adalah cobalah untuk belajar membuka diri walaupun sedang terluka karena jika kita menutup diri itu tandanya kita menghalangi kebahagiaan untuk datang. 

Tulisan di buku ini berupa kata-kata pengingat dan motivasi-motivasi gitu. Aku sendiri merasa bosan sih membaca buku ini mungkin karena tidak ada ilustrasinya sama sekali, kalau ditambah ilustrasi pasti bukunya jadi lebih menarik dan lucu. Buku ini rekomen banget buat kamu yang lagi galau sama permasalahan hidup, lagi capek, kesel sama realita dan dengan adanya buku ini pembaca kayak diajak untuk melihat segala sesuatu dari sisi yang berbeda. 



Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url