Review Film Stip dan Pensil, Angkat Isu Sosial di Indonesia
Stip dan Pensil adalah film asal Indonesia yang mengangkat isu sosial tentang masyarakat pinggiran di Jakarta dan pendidikan. Fokus film ini sangat unik yaitu anak-anak orang kaya yang biasanya disegani satu sekolah tetapi malah dibenci oleh teman-teman di sekolah mereka.
Kalau kamu tertarik menonton film komedi dengan unsur persahabatan kuat ini, bisa simak reviu di bawah ini terlebih dahulu.
Updated 2 Oktober 2026
Stip dan Pensil adalah film asal Indonesia yang mengangkat isu sosial tentang masyarakat pinggiran di Jakarta dan pendidikan. Fokus film ini sangat unik yaitu anak-anak orang kaya yang biasanya disegani satu sekolah tetapi malah dibenci oleh teman-teman di sekolah mereka.
Kalau kamu tertarik menonton film komedi dengan unsur persahabatan kuat ini, bisa simak reviu di bawah ini terlebih dahulu.
Updated 2 Oktober 2026
Identitas Film Stip dan Pensil
Judul : Stip dan Pensil
Genre : Comedy, Social, Friendhsip, School Life
Sutradara : Ardy Octaviand
Produser : Manoj Punjabi
Skenario : Joko Anwar
Negara : Indonesia
Bahasa: Indonesia
Durasi: 1 jam 38 menit
Sinopsis Film
Film ini diawali dengan kisah 4 orang sahabat yang bernama Toni, Aghi, Bubu dan Saras. Mereka adalah anak dari orang kaya yang dimusuhi satu sekolah karena dianggap sombong dan selalu merasa eksklusif seolah-olah tidak ada yang layak berteman dengan mereka. Saking bencinya, ada satu orang yang membuat konten Youtube berisi tentang kesombongan dari mereka berempat.
Cerita berlanjut ketika sekolah mereka kedatangan guru baru bernama Pak Adam yang mengajar ilmu sosial. Pak Adam memberikan tugas untuk membuat esai tentang kesadaran sosial. Keempat sahabat tadi pun kebingungan dalam memilih tema sampai akhirnya mereka bertemu dengan pengamen cilik bernama Ucok.
Setelah membuat esai, keempat sahabat tadi pun memiliki inisiatif untuk membangun sekolah darurat di kolong jembatan tempat tinggal Ucok. Sekolah tersebut dibangun dengan uang jajan mereka sendiri dan gurunya juga keempat sahabat tersebut. Akan tetapi ternyata tidak semudah itu mengajak anak-anak agar mau bersekolah.
Film Stip dan Pensil mengajarkan kepada kita bahwa pendidikan itu penting akan tetapi masih ada sebagian masyarakat yang tidak berfikiran demikian, digambarkan dengan penolakan dari Ibu Ucok saat keempat sahabat tersebut meminta izin agar anaknya boleh sekolah. Belum lagi cobaan lain yang menimpa keempat sahabat tersebut seperti peralatan kelas yang diambil warga dan penggusuran sekolah darurat.
Selain kisah persahabatan, film ini juga dibumbui dengan komedi sehingga membuat penonton terhibur melihatnya baik dari adegan atau dialog para tokoh. Ditambah dengan kisah cinta segitiga antara Saras, Edwin dan Bubu. Film ini juga menyadarkan kita bahwa pentingnya untuk selalu melihat ke bawah agar kita senantiasa menjadi manusia yang bersyukur karena di luar sana masih banyak orang yang kurang beruntung daripada kita.
Review Film Stip dan Pensil
Stip dan Pensil merupakan sebuah film asal Indonesia yang tayang pada tanggal 19 April 2017 lalu. Film ini mengangkat tema tentang kesadaran sosial akan orang-orang di sekitar kita. Film Stip dan Pensil yang dibintangi oleh beberapa aktor dan aktris terkenal ini berdurasi selama 98 menit. Simak uraian di bawah ini untuk penjelasan lebih lanjut tentang film tersebut.
1. Di Balik Layar Film
Film Stip dan Pensil dibintangi oleh beberapa aktor dan aktris seperti Ernest Prakasa (Toni), Tatjana Saphira (Bubu), Indah Permatasari (Saras), Ardit Erwandha (Aghi), Rangga Azof (Edwin), Moh. Iqbal Sulaiman (Ucok), Arie Kriting (Pak RT), Pandji Pragiwaksono (Pak Adam), Tora Sudiro (wartawan) dan beberapa artis lainnya.
2. Pesan Moral
Pesan moral yang bisa aku dapat setelah menonton film Stip dan Pensil adalah bahwa kita tidak boleh menilai orang dari luarnya saja. Teman-teman sekolahnya sangat membenci 4 anak orang kaya yaitu Toni, Bubu, Aghi, dan Saras karena mereka hanya mengandalkan uang orang tua saja.
Padahal dengan privilese yang mereka miliki, mereka berempat memutuskan membangun sekolah di daerah pinggiran, mengajar anak-anak yang kurang beruntung membaca dan menulis, serta membantu orang yang membutuhkan bantuan mereka.
3. Fakta Menarik
Film yang mengangkat isu sosial ini berhasil masuk nominasi penghargaan Piala Maya tahun 2017 untuk kategori Best Young Performer. Selain itu, film ini juga masuk di kategori yang sama di Festival Film Indonesia tahun 2017.
4. Rekomendasi Serupa
Kalau kamu mencari rekomendasi serupa film Indonesia dengan yang mengandung pelajaran penting bisa simak beberapa rekomendasi di bawah ini.
- Hari Ini, Akan Kita Ceritakan Nanti: Film keluarga di Netflix tentang masa muda Narendra dan Ajeng yang berjuang meminta restu orang tua Ajeng untuk hubungan keduanya. Hidup keduanya di masa lalu tidak mudah dan penuh perjuangan. Film ini juga menyoroti bagaimana hubungan kaku antara Narendra dan Angkasa, anak sulung mereka.
- Keluarga Super Irit: Film di Netflix tentang satu keluarga yang berusaha keras menghemat pengeluaran mereka dengan beragam cara unik seperti menumpang mengisi daya di perpustakaan daerah, memilih belanja online dan mengambilnya sendiri dengan sepeda gayung, serta membuka jasa titip untuk tetangga mereka.
- Cek Ombak Melulu: Film di Vidio tentang dua orang lawan jenis yang bertemu di situs kencan namun hubungan keduanya tidak direstui orang tua masing-masing. Tapi lucunya adalah malah kedua orang tua mereka yang saling kepincut satu sama lain dan ingin menikah.
Setelah membaca reviu di atas, apakah kamu tertarik mengikuti kisah Toni, Aghi, Bubu, dan Saras? Atau kalau kamu sudah menontonnya, bisa bagikan opinimu di kolom komentar ya!